Adil ka Talino Bacuramin ka Saruga Basengat ka Jubata Arti Pepatah Dayak

Adil ka Talino Bacuramin ka Saruga Basengat ka Jubata Arti Pepatah Dayak

Salam yang menata hidup, bukan hanya membuka acara

“Adil ka talino, bacuramin ka saruga, basengat ka jubata” sering terdengar sebagai salam Dayak. Orang mengucapkannya di pembuka rapat adat, festival, dan pertemuan resmi. Jawaban yang lazim sekarang adalah “Arus, arus, arus.” Sahutan itu berarti setuju, amin, atau biar hal yang baik terus mengalir. Dulu jawaban yang dipakai adalah “Auk.” Perubahan sahutan diputuskan dalam musyawarah adat, bukan asal gagah di panggung.

Ungkapan ini berakar kuat pada bahasa Kanayatn di Kalimantan Barat, terutama di kawasan yang kini merujuk pada Landak, Bengkayang, Mempawah, dan sekitar Pontianak. Lama-kelamaan ia dipakai lebih luas sebagai salam identitas Dayak. Status itu tidak membuatnya menjadi slogan kosong. Isinya menata tiga hubungan sekaligus: manusia dengan manusia, manusia dengan ukuran kebaikan, dan manusia dengan Tuhan.

Saya menolak membaca frasa ini hanya sebagai “ucapan khas daerah.” Ia adalah kompas. Jika diucapkan tanpa laku, yang tersisa hanya bunyi yang sopan. Jika dijalankan, ia menahan orang dari merendahkan sesama, berbuat semau sendiri, dan merusak alam seolah napas itu milik pribadi.

Adil ka talino: keadilan yang tidak memilih muka

Adil berarti tidak berat sebelah. Talino berarti manusia. Maka “adil ka talino” adalah perintah bersikap adil kepada sesama manusia. Tidak ada orang yang boleh diinjak karena asal-usul, miskin kaya, atau jauh dekat kekerabatan. Dalam adat, keadilan itu diuji pada utang-piutang, batas ladang, warisan, dan musyawarah. Orang bisa piawai mengucapkan salam, lalu berat sebelah saat membagi hasil atau menimbang perkara keluarga sendiri.

Tokoh adat seperti Hendiyono menekankan bahwa adil harus kelihatan pada tindakan, ucapan, dan perilaku. Bukan adil di mulut pada pagi hari, lalu pilih kasih pada sore hari. Nilai ini dekat dengan cita-cita keadilan sosial, tetapi ia lebih tua sebagai bahasa kampung. Saya membacanya sebagai tulang sosial yang lahir dari hidup bersama di rumah panjang, di ladang, dan di sungai. Persamaan derajat tidak menunggu ruang seminar.

Di konflik lahan hari ini, “adil ka talino” lebih mendesak daripada spanduk. Surat boleh lengkap. Jika orang yang lemah tidak didengar, surat itu hanya merapikan ketidakadilan. Pepatah ini menolak model menang-menangan yang menghapus muka lawan. Manusia tetap manusia, termasuk yang berbeda pendapat.

Bacuramin ka saruga: cermin yang lebih tinggi dari nafsu

Bacuramin berarti bercermin atau menakar diri. Saruga merujuk pada surga sebagai gambaran tempat yang damai, jujur, dan mulia. Manusia diminta menimbang ucap dan laku pada ukuran itu. Bukan berarti orang Dayak mengaku sudah suci. Artinya ada cermin yang lebih tinggi daripada untung sesaat, gengsi rapat, atau amarah semalam.

Etika ini bersifat publik. Rumah, hutan, pasar, dan forum adat sama-sama bisa dinilai dari cermin tersebut. Orang yang merampas, menipu, atau menyebar fitnah gagal pada bacuramin ka saruga meski pintar beradat di atas podium. Ahli budaya melihat bagian ini sebagai pengingat moral: yang baik tidak hanya yang lolos adat secara formal, tetapi yang pantas diteladani.

Dalam hidup kota, cermin itu berguna untuk menahan cara bicara di media sosial. Ketegasan boleh. Penghinaan yang menikmati luka orang lain tidak lolos ujian surga sebagai ukuran. Pepatah ini tidak anti-dunia. Ia anti-laku yang kotor lalu dicarikan alasan adat.

Basengat ka jubata: napas yang dipinjamkan

Basengat berkaitan dengan napas, hidup, dan daya yang membuat orang masih bergerak. Jubata merujuk pada Tuhan Yang Maha Esa, penguasa langit dan bumi dalam bahasa dan iman komunitas Kanayatn yang lalu dipahami luas sebagai Sang Pencipta. “Basengat ka jubata” adalah pengakuan bahwa hidup bergantung pada kehendak Ilahi. Bagian ini menahan kesombongan.

Hutan, sungai, padi, dan tubuh sendiri bukan milik mutlak. Napas dipinjamkan. Karena dipinjamkan, hidup wajib bertanggung jawab. Relasi spiritual Dayak tidak dipisahkan dari alam. Merusak sungai sampai keruh dan menghabisi hutan sampai botak bukan hanya soal ekonomi. Itu pengingkaran pada sumber napas. Orang boleh berdebat soal cara menata lahan. Sulit berdebat dengan pepatah ini jika hasil akhirnya merampas napas generasi berikut.

Saya berpendapat kaki ketiga ini yang paling sering dilupakan orang luar ketika hanya menghafal terjemahan “adil kepada manusia.” Tanpa Jubata, keadilan mudah menyusut menjadi urusan kuasa. Dengan Jubata, manusia diingatkan bahwa ia bukan pusat.

Tiga kaki yang tidak boleh dicabut sebelah

Ketiga frasa itu satu napas. Adil tanpa cermin kebaikan bisa menjadi keadilan yang kering, menang di aturan kalah di hati. Cermin kebaikan tanpa keadilan sosial bisa menjadi kesalehan yang buta pada orang lemah. Sadar Tuhan tanpa adil kepada manusia mudah menjadi ibadah yang membiarkan penindasan. Karena itu pepatah ini diucapkan utuh. Memotongnya hanya untuk mempercantik undangan merusak arsitekturnya.

Yakobus Kumis dan sejumlah tokoh Majelis Adat Dayak menempatkan ungkapan ini sebagai falsafah, bukan basa-basi. Dunia manusia dipandang harus memantulkan yang baik, sementara nyawa sendiri berasal dari yang ilahi. Itu pandangan kosmos yang ringkas. Tidak perlu kamus tebal untuk memahaminya. Yang sulit adalah menaatinya saat ada kesempatan curang.

Dari lembaga Kanayatn menuju salam yang lebih luas

Sejak sekitar 1975, frasa ini sudah hidup sebagai salam dan pedoman di lembaga adat Dayak Kanayatn di tingkat kecamatan. Pada 26 Mei 1985, saat upacara adat Naik Dango yang pertama di Anjungan, Kabupaten Pontianak kala itu, semboyan ini dikukuhkan lebih formal. Tokoh seperti F. Bahudin Kay, M. Ikot Rinding, Salimun, dan R.A. Rachmad Syahuddin termasuk yang disebut dalam penuturan asal-usul.

Ketika Majelis Adat Dayak tingkat provinsi berdiri, motto itu masuk anggaran dasar sebagai salam masyarakat Dayak Kalimantan Barat. Kemudian musyawarah adat yang lebih luas membawa pemakaiannya sebagai salam Dayak secara nasional. Sahutan “Auk” diganti “Arus” tiga kali, antara lain melalui kesepakatan musyawarah Dewan Adat Dayak pada awal 2000-an. Perubahan itu menunjukkan adat tidak membeku. Yang dijaga adalah makna, bukan satu bunyi yang tidak boleh diutak-atik.

Presiden dan pejabat nasional pernah mengucapkan salam ini di Kalimantan. Gibran dan Jokowi termasuk yang terekam publik. Itu boleh dibaca sebagai penghormatan, asal lafal tidak diledek dan makna tidak dipotong jadi foto. Mengucapkan salam orang lain menuntut sikap belajar, bukan sikap meminjam kostum.

Relevansi yang tidak habis di festival

Konflik agraria di Borneo membutuhkan adil ka talino, bukan hanya legalisir di atas peta. Korupsi anggaran merusak bacuramin ka saruga karena mencuri dari yang seharusnya sampai ke orang banyak. Tambang dan kayu yang meninggalkan lumpur di kampung mengabaikan basengat ka jubata. Tiga ujian itu masih berlangsung. Pepatah yang hanya hidup di umbul-umbul gagal pada ketiga ujian.

Saya berpendapat frasa ini layak masuk pendidikan karakter di Kalimantan, dengan syarat tidak dijadikan hafalan kosong. Anak muda Dayak yang merantau ke kota bisa membawanya ke kantor dan ke laman unggahan. Adil tetap adil saat membagi kerja. Cermin surga tetap dipakai saat tergoda menipu. Sadar Jubata tetap hidup saat melihat sungai sebagai lebih dari objek foto.

Ahli adat berulang kali mengingatkan: salam tanpa laku adalah basa-basi. Kalimat itu keras dan perlu. Kebudayaan yang hanya dipentaskan akan kalah oleh harga kayu. Kebudayaan yang dipakai menimbang keputusan punya peluang bertahan.

Cara mengucapkan dan menjawab dengan hormat

Pelajari lafal dari penutur Kanayatn jika sempat. Jangan menirukan dengan nada merendah atau menjadikan olok-olok di luar konteks. Ucapkan utuh. Tunggu sahutan. “Arus, arus, arus” bukan teriakan pertandingan. Itu persetujuan yang membawa doa agar yang baik terus mengalir.

Pakai salam ini pada pembuka acara adat, budaya, dan pertemuan yang memang menuntut penghormatan. Tidak setiap obrolan warung perlu dipaksa menjadi upacara. Hormati bahwa ini milik hidup suatu bangsa di Borneo, lengkap dengan sejarah rumusan 1985 dan perjalanan kelembagaan adat. Memakai tanpa mengenal asal-usul sama dengan meminjam baju tanpa tahu siapa yang menenun.

Bagi yang bukan Dayak, mengucapkan salam ini sah sebagai tanda hormat jika diikuti sikap belajar. Jangan menumpuk arti semau sendiri. Jangan pula mengklaim sebagai slogan politik musiman. Pepatah yang sudah menjadi kompas komunitas tidak pantas dijadikan tempelan lima menit.

Kesimpulan

Adil ka talino menuntut keadilan antarmanusia. Bacuramin ka saruga menuntut laku yang pantas ditimbang pada kebaikan. Basengat ka jubata menuntut sadar bahwa napas berasal dari Tuhan. Itulah inti pepatah Dayak yang merawat dunia dan sesama. Salam ini indah di telinga. Ia baru benar jika orang yang mengucapkannya berani hidup setara, bersih, dan tidak sombong terhadap tanah serta orang lain.